Membahas Islamisasi di tanah Borneo tidak dapat dilepaskan dari perbincangan seputar tokoh yang berperan pada prosesnya. Muhammad Arsyad Al-Banjary dipercaya sebagai tokoh utama penyiaran Islam di tanah Borneo. Ia pada akhir abad ke 18 M, dikenal sebagai ulama yang paling menonjol di antara kawan seangkatannya di kawasan Nusantara. Shagir Abdullah dalam bukunya menyebut Arsyad sebagai Matahari Islam Nusantara,[i] sementara itu Saifuddin Zuhri (mantan Menteri Agama RI 1962-1967) menyebut Arsyad sebagai Mercusuar Islam Kalimantan.[ii] Adapun Azyumardi Azra memposisikannya sebagai orang yang tidak saja berperan penting pada keterlibatannya dalam jaringan ulama di Nusantara, melainkan juga pada kenyataannya bahwa ia ulama pertama yang mendirikan lembaga-lembaga Islam serta memperkenalkan gagasan-gagasan keagamaan baru di Kalimantan, khususnya Kalimantan Selatan.[iii] Pendidikan Islam yang diselenggaraannya mampu menarik minat para pelajar tanah Borneo untuk datang berguru ke Martapura, Kalimantan Selatan.
Disebutkan Shagir Abdullah bahwa kepopuleran Arsyad melintasi berbagai wilayah seperti Kamboja, Thailand, Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam. Hal ini disebabkan karena karyanya yang monumental, kitab Sabil al-Muhtadin banyak dipelajari oleh umat Islam di negara-negara tersebut. Lebih dari itu, kitab ini tersimpan rapi dibeberapa perpustakaan besar dunia, seperti Mekah, Mesir, Turki dan Beirut.[iv]
Dalam lingkup yang lebih kecil, Arsyad dipandang sebagai tokoh sejarah yang telah berhasil membawa perubahan besar bagi masyarakat Kalimantan Selatan, terutama dari aspek kepercayaan dan paham keagamaan dalam persiapan menghadapi zaman baru.[v] Upayanya melakukan pembaharuan meliputi hampir di berbagai aspek keagamaan, dari mulai teologi, fiqih, tasawuf hingga pendidikan.
Kendati dikenal sebagai politikus namun sejatinya concern Arsyad lebih tertuju pada bidang pendidikan atau pembinaan generasi dibandingkan dengan politik. Amanah sebagai mufti kerajaan diserahkannya kepada cucunya yang bernama Muhammad As’ad. Dari usianya yang mencapai 102 tahun, selama 67 tahun usianya, Arsyad abdikan pada upaya membina dan mencerdaskan masyarakat. Walhasil, ia sukses mengkader anak-cucu-keturunan dan murid-muridnya menjadi ulama dan muballig-muballig sebagai partnernya menyebarkan Islam hampir ke seluruh wilayah Kalimantan, dari pusat kerajaan yang berada di Martapura hingga ke pelosok pedalaman yang terpencil.
Beberapa riwayat menyebutkan (kendati masih diperlukan uji terhadap tingkat validitasnya baik melalui survey ataupun interview), ulama yang tersebar di seantero Kalimantan saat ini, sebagian di Tembilahan (Riau), Gorontalo (Sulawesi), Bangil (Jawa Timur) dan Kedah (Malaysia), mayoritasnya merupakan keturunan atau memiliki garis sanad guru-murid dengan Arsyad.
Pondok pesantren Dalam Pagar merupakan institusi pendidikan bentukan Arsyad yang banyak menarik perhatian para kaum muda tanah Borneo. Dalam Pagar sendiri berlokasi di wilayah Martapura, Kalimantan Selatan. Pada masa itu (abad ke 18) masih belum ditemukan lembaga pendidikan yang bersifat formal akan tetapi Arsyad telah merumuskan institusi pendidikan yang bukan hanya mengajarkan hal-hal yang bersifat abstrak atau teoritis. Namun juga melatih keterampilan dan kreatifitas santrinya dalam menjalani hidup. Para santri dibekali ilmu-ilmu pertanian serta perdagangan sebagai bekal untuk menjalani kehidupannya yang nyata. Nama Dalam Pagar sendiri merupakan kiasan terhadap gambaran kondisi santri yang berada dalam wilayah aman dan nyaman, terjaga dari pengaruh buruk dari lingkungan masyarakat serta fokus terhadap pengembangan ilmu pengetahuan.
Popularitas Dalam Pagar menembus wilayah-wilayah tetangga seperti Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia hingga Thailand. Hingga kini di Martapura masih ditemukan wilayah yang disebut dengan ‘Kampung Melayu’ yang menurut kepercayaan masyarakat setempat merupakan kawasan pemukiman warga jiran tersebut yang belajar di Dalam Pagar.
Berdasarkan ini, sangat dimaklumi jika Steenbrink pernah berkesimpulan bahwa Kalimantan Selatan pada waktu itu telah menjadi pusat perkembangan budaya dan sastra Melayu keagamaan Islam menggeser posisi Aceh dan Palembang yang pernah berjaya pada abad 17 dan awal 18.[vi] Semuanya tidak lepas dari peran Arsyad sebagai motor penggerak pendidikan di Kalimantan Selatan merupakan nadi dari persebaran Islam di Kalimantan yang dahulu dikenal dengan sebutan Borneo. [i] Wan Shagir Abdullah, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Matahari Islam, (Pontianak: Yayasan Pendidikan & Dakwah al-Fatanah, 1983), hal. 12.
[ii] Saifuddin Zuhri, Sejarah Kebangkitan Islam dan Perkembangannya di Indonesia, (Bandung: PT. al-Ma’arif, 1981), hal. 176.
[iii] Azyumardi Azra, Jaringan Ulama Timur Tengah, (Bandung: Mizan, 1994), cet. I, hal. 251.
[iv] Wan Shagir Abdullah, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari…, hal. 47.
[v] Tim Peneliti, Laporan Hasil Penelitian Pemikiran-Pemikiran Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, (Banjarmasin : PPPTIAIN Antasari, 1988/1989), hal. 2.
[vi] Karel A. Steenbrink, Beberapa Aspek Tentang Islam di Indonesia Abad ke-19, (Jakarta: Bulan Bintang, 1984), hal. 9.
No comments:
Post a Comment