Wednesday, March 07, 2012

Komunikasi Pada Proses Belajar-Mengajar


Komunikasi merupakan hal yang diakui sangat urgen bagi keberlangsungan kehidupan. Komunikasi dilakukan agar pesan-pesan yang hendak disampaikan oleh komunikator bisa dipahami dan diterima dengan baik oleh yang pihak yang berkenaan. Komunikasi dapat dilakukan secara verbal ataupun nonverbal. Dalam hal ini M. Sirozi mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan komunikasi verbal adalah komunikasi yang dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang bahasa yang diwujudkan dengan kata-kata sebagai pengemasan pesan yang akan disampaikan kepada komunikan (orang yang menerima pesan). Sebaliknya komunikasi non verbal adalah penyampaian pesan yang dilakukan dengan menggunakan lambang-lambang bahasa yang diwujudkan dengan gesture atau body language ataupun benda-benda lainnya yang dapat memberikan pengertian kepada penerima pesan.[i] Uraian ini menjelaskan bahwa komunikasi mutlak dilakukan oleh manusia untuk keberlangsungan hidupnya baik yang berkenaan dengan pribadinya terlebih berkenaan dengan hajat hidup orang banyak.
Pada proses pendidikan, lebih khusus lagi pada proses belajar-mengajar, komunikasi yang efektif dinilai sangat vital. Penyampaian informasi kepada para siswa dengan cara-cara atau metode yang tidak efektif akan memunculkan kesan bahwa mata pelajaran yang disampaikan merupakan mata pelajaran yang sulit dan menjemukan. Lebih dari itu pada akhirnya mata pelajaran tersebut akan dihindari karena tidak mampu memunculkan efek yang menggugah rasa interest (ketertarikan) bagi para siswa untuk menekuninya.
Realita di sekolah menunjukan bahwa beberapa mata pelajaran tertentu pada kebanyakan siswa dianggap menjemukan. Diantara mata pelajaran itu adalah Sejarah dan Matematika, lebih menyedihkan lagi ada siswa yang beranggapan bahwa bahasa Indonesia yang merupakan bahasa persatua bangsa kita juga masuk dalam kategori mata pelajaran yang menjemukan.
Dalam hal ini maka guru pengampu mata pelajaran-mata pelajaran tersebut setidaknya harus berusaha keras agar mata pelajaran yang diampunya mampu dipahami dengan baik oleh siswa. Terlebih lagi jika sang guru mampu menggugah rasa ketertarikan siswa untuk lebih menekuni mata pelajaran tersebut.
Sejatinya imej pada mata pelajaran tersebut bukan hanya terbentuk dari karakter dasar mata pelajaran tersebut yang pada dasarnya berupa kumpulan teori atau rumus-rumus, namun juga bisa disebabkan oleh cara atau metode penyampaian guru yang kurang berkesan bagi siswa. Disebabkan oleh kesan dan kondisi tertentu terdapat juga kalangan guru yang beranggapan bahwa mata pelajaran Sejarah adalah bukan hal yang penting untuk dikaji kembali karena hanya dianggap sebagai peristiwa masa lampau yang tidak lebih dari hanya sekedar kumpulan cerita. Kasus ini juga turut menularkan anggapan kepada para siswa bahwa pelajaran Sejarah adalah bukan pelajaran yang urgen dan menentukan di masa depan. Pada poin inilah pentingnya seorang guru tidak hanya menguasai ilmu dari mata pelajaran yang diampunya, akan tetapi juga memahami ilmu komunikasi dan psikologi siswa sehingga mampu memahami karakter, mengarahkan massa dan mensugesti mereka.
Sebab, tidak jarang ditemukan para siswa yang sangat gemar bahkan keranjingan belajar Matematika dikarenakan metode penyampaian sang guru yang kreatif dan inovatif. Pada kasus yang lain, dengan kharismanya di lembaga pendidikan Islam serta di kalangan masyarakat umum seorang ustadz atau kyai mampu memberikan doktrin terhadap santri ataupun pendengarnya. Doktrin inilah yang pada akhirnya memantapkan keyakinan dalam diri seseorang sehingga bermenjadi kekuatan besar untuk menjadi prinsip dan gaya hidup.
Untuk dapat membimbing belajar siswa dengan baik, setidaknya guru mampu menciptakan kondisi: a) pelajaran menjadi mudah untuk dipahami, b) tercipta suasana belajar yang menyenangkan, c) mampu mempengaruhi sikap murid, d) meningkatkan hubungan sosial di kelas, e) mempengaruhi tindakan atau respon murid.
Guru sangat dituntut untuk membuat pelajaran menjadi lebih mudah dipahami dan diingat oleh murid. Misal untuk mengingat warna-warna bentukan yang ditimbulkan oleh pelangi maka diciptakan singkatan ‘mejikuhibiniu’ (merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila dan ungu). Dengan cara ini tentu anak-anak menjadi lebih mudah mengingatnya bukan berdasarkan hafalan yang pada akhirnya berefek lupa (hilang memori).
Sangat menarik, di pesantren menjadi tradisi turun-temurun sistem atau pola menghafal kalimat-kalimat tertentu atau gramatikal Bahasa Arab dengan menggubah syair atau kalimat-kalimat tersebut menjadi sebuah senandung atau nyanyian. Dengan cara ini para santri akan dengan mudah mengingatnya, mempelajarinya, memahami dan melakukan analisa lebih lanjut terhadap kalimat-kalimat atau rumus dari gramatikal tersebut. Cara ini juga membuat suasana kelas menjadi lebih menyenangkan. 
Satu hal lagi yang tidak kalah pentingnya adalah, bagaimana agar para siswa dapat merasakan kasih sayang dan perhatian dari gurunya. Sikap tersebut akan memunculkan inspirasi tersendiri bagi para siswa. Kendati ia tidak begitu menguasai mata pelajaran yang bersangutan, tetapi boleh jadi sikap sang guru akan menginspirasinya untuk menjadi lebih kreatif pada bidang yang lain atau setidaknya terus dapat menyalakan semangat belajar dalam diri siswa.


[i] M. Sirozi, Politik Pendidikan: Dinamika Hubungan Antara Kepentingan Kekuasaan dan Praktik Penyelenggaraan Pendidikan, (Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada, 2007), hal. 167.

No comments:

Post a Comment